Wednesday, September 17, 2014

How to Train Your Dragon 2

How to Train Your Dragon 2
Kisah persahabatan pemuda Viking dengan seekor naga hitam super cepat berlanjut.

Hiccup dan naganya: Toothless sedang mengeksplorasi daerah-daerah yang belum terjamah, untuk meluaskan teritori, saat mereka bertemu para pemburu naga.

Pemimpinnya bernama Eret mengaku memburu naga untuk diserahkan kepada Drago Bludvist, seorang pemburu naga lainnya yang terkenal kejam, yang saat itu berniat untuk membangun bala tentara naga.

Hiccup berencana untuk mencari Drago dan mengajaknya berdiskusi supaya naga-naga buruannya dilepaskan. Ia berharap Drago akan mengerti dan sependapat dengannya.

Dalam perjalanannya mencari Drago, ia bertemu dengan seorang penunggang naga misterius. Hiccup & Toothless dibawanya ke sebuah gua, markas sang penunggang naga. Di sana, terdapat ratusan naga yang patuh, bukan pada si penunggang, melainkan pada seekor naga raksasa: The Alpha Species.

How to Train Your Dragon 2

Di balik topeng mengancam yang dikenakan oleh si penunggang naga, terdapat satu sejarah keluarga yang mengharukan. Si penunggang naga itu bernama Valka, dan dia adalah ibu Hiccup yang telah lama hilang, dan dianggap telah tewas.

Selain kisah menyentuh antara ibu & anak, serta istri & suami yang lama terpisah, film ini juga menyajikan pemandangan yang indah. Sekilas mengingatkan film Avatar. Saat para naga terbang berputar-putar di menara batu yang menjulang. Juga saat Valka tiba-tiba muncul dari balik awan-awan seraya berdiri mengendarai Cloudjumper, mengingatkan Toruk Makto di film Avatar juga.

How to Train Your Dragon 2

Alpha Species milik Valka tewas saat bertarung dengan Alpha Species lain milik Drago. Sehingga Alpha baru itu dengan leluasa mengendalikan naga lainnya, termasuk Toothless, yang didikte untuk membunuh Hiccup. Namun, Stoick berlari menerjang api dari mulut Toothless, untuk menyelamatkan anaknya, dan mengorbankan nyawanya sendiri.

How to Train Your Dragon 2

Film tidak berakhir di sini, atau bersambung ke How to Train Your Dragon 3. Tapi masih ada adegan lanjutan yang lebih seru. Hiccup dan teman-temannya berencana untuk menyelamatkan penduduk Berk, yang ingin dihancurkan oleh prajurit-prajurit naga Drago. Mereka mengendarai bayi-bayi naga, yang ternyata belum bisa dikendalikan oleh si Alpha.

Di akhir cerita, ada seekor naga lain yang menantang sang Alpha, dan lalu menjadi Alpha Species baru.

Filmnya bagus. Recomended buat keluarga.

How to Train Your Dragon 2

How to Train Your Dragon 2

How to Train Your Dragon 2

How to Train Your Dragon 2

How to Train Your Dragon 2

Tuesday, September 9, 2014

Menulis & Buku Harian


Dulu, saat masih kelas 4 SD. Gue membeli sebuah buku diary, sebab saat itu semua temen pada punya. Masa gue nggak?

Tetapi, setelah dipikir-pikir, punya buku diary itu menyenangkan ya? Gue bisa tulis tentang semua uneg-uneg, segala rasa (senang dan sedih) tanpa seorang pun perlu tahu. Karena buku itu berkunci. Dan kuncinya gue telan.


Nggak deh, kuncinya cuma gue masukin ke brankas besi yang ada passwordnya: 130183 (tanggal lahir gue). Lalu brankas tersebut gue pendam dalam tanah, dan gue pasangkan batu nisan bertuliskan: RIP Brankas Besi.

Tapi tiba2 saja, salah satu oknum teman SD, mengetahui seluruh isi buku harian gue itu. Entah bagaimana caranya, dia bisa membaca keluh kesah gue di situ. Mungkin dia menjelajah waktu menggunakan mesin waktu di laci meja belajar Nobita. Kemudian membaca blog keren ini, untuk mengetahui letak penyimpanan kunci buku harian gue. Damn!



Teman gue itu membocorkan catatan hati gue ke teman-teman lain yang tidak berdosa. Dan mereka mulai menjauhi gue, seakan gue ini adalah makhluk primitif yang doyan daging manusia.

Gue sedih banget dan kecewa. Hingga akhirnya memutuskan nggak mau kenal lagi yang namanya buku harian. Buku diary itu gue sobek-sobek sampe kecil, lalu gue bakar di api unggun sambil memutarinya tujuh kali.


Tapi, hal itu nggak berlangsung lama (bagian nggak kenal dengan buku harian). Sebab selulus SD, gue beli lagi buku harian lainnya untuk tetap menulis saat SMP, SMA hingga S1.



Dan sebelum lulus S1, buku harian gue nggak berbentuk buku lagi, melainkan berbentuk file-file Microsoft Word, dengan password yang njelimet, sampai gue kadang lupa sendiri, dan ujung-ujungnya nggak bisa buka file-nya untuk dibaca ulang. File-file word itu gue tata di satu folder khusus bernama My Voices. Keren ya!

Lalu, setelah adanya invasi virus besar-besaran & terjadi chaos di komputer rumah, hilanglah semua "suara gue" itu.


Gue cuma bisa duduk termangu di depan monitor komputer yang kosong. Rasanya pengen gue banting, tapi nanti diomelin bokap, atau mau gue jambak, tapi monitor nggak punya rambut. Uuuuh pengen bunuh orang aja, trus dagingnya gue makan.... loh?!


Mulailah gue mengenal blog. Awal mulanya di multiply.com
Namun, karena manajemen multiply yang "canggih bener" itu, mereka mengusir para blogger dari platform mereka. Dengan kerepotan tiada terkira, melebihi orang pindahan rumah, gue memindahkan semua postingan ke blogspot (blog yang sekarang ini jadi lahan untuk senang2 ala fairus).

Kecintaan terhadap tulis-menulis ini nggak terbatas pada buku harian aja, tapi juga mengarang cerpen-cerpen. Bayangkan, seorang Fairus Baggins berkhayal dan mengucurkan khayalannya itu pada lembar-lembar kertas. Mulai dari cerita yang seram-seram, hingga drama. Akan gue share di sini kapan-kapan.

Dulu sih, cita-cita mau menerbitkan buku, setelah Tesis kelarlah. Apa daya, setelah menikah dan punya anak, perlahan cita-cita itu redup. Tapi nggak hilang, sebab gue masih gemar menulis blog. Seiring waktu semoga semangat merampungkan buku kembali berbinar. Kalo nggak di hati gue, paling tidak di hati Sabrina-lah. Hahaha..

Saturday, September 6, 2014

Playing For Keeps

Playing For Keeps
Sederet bintang ternama: Gerard Butler, Jessica Biel, Catherine Zeta-Jones, Uma Thurman, etc hadir dalam film drama keluarga / komedi romatis: Playing for Keeps.


Berkisah tentang seorang pensiunan sepak bola: George Dryer, yang dulunya kaya raya. Namun, setelah ia menarik diri dari dunianya yang identik dengan ke-glamour-an, ia menetap di Virginia, supaya dekat dengan mantan istri & anak semata mayangnya.



Ia pulang dalam keadaan berantakan, pengangguran, dan kehidupannya tanpa rencana. Hubungan George dengan anaknya: Lewis, bisa dikatakan banyak kendala. Apalagi setelah ia mengetahui, mantan istrinya itu akan segera menikah dengan pacar barunya. Kesedihannya semakin menumpuk.

Sadar ia harus memperbaiki keadaannya, ia mulai mencari job. Dan, salah satu temannya menawarkan pekerjaan sebagai host acara sepakbola lokal. Lalu, ia juga diminta oleh mantan istrinya untuk menjadi pelatih tim sepakbola anaknya.


Setelah beberapa kali melatih tim sepakbola U-9 tersebut, para ibu yang mendampingi anak-anaknya berlatih tampak terkesan dengan ketampanan George. Mereka berlomba untuk mendekati dan berkencan dengannya. Hal-hal konyol pun terjadi.

Kedekatan George dengan beberapa wanita, membuat hubungan dengan anaknya retak. Lewis memutuskan untuk keluar dari tim sepakbolanya. Tapi, George sadar kepindahannya ke kota ini untuk menjadi ayah yang baik bagi Lewis. Perlahan George mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan anaknya, dan mantan istrinya.

Di penghujung film, drama antara ayah & anak baru terukir dengan indahnya, berhasil mengucurkan air mata. Recommended buat pencinta drama keluarga.






Wednesday, September 3, 2014

Review Buku: Insurgent

review buku insurgent 
Genre:
Science Fiction
Author:
Victoria Roth


Setelah menonton film Divergent, dan mendapatkan ending menggantung, gue sadar ini nggak benar. Jangan sekalipun membiarkan seorang Fairus Baggins menderita dalam pertanyaan: "Apa yang terjadi selanjutnya?" yang tidak mampu dijawabnya.

Lalu, terjadilah transaksi pembelian trilogi buku Divergent - Insurgent - Allegiant di bukukita.com. Setelah ketiga buku itu mendarat sukses di meja kantor, tanpa ba-bi-bu, gue sudah menamatkan dua bukunya. Dan sekarang sedang membaca Allegiant.

Berhubung review Divergent sudah gue tulis, walaupun dalam format review film, jadi review buku-nya akan gue lewatkan. Dan langsung menulis review buku ke-2 dari trilogi ini.

Setelah terjadi chaos akibat simulasi di akhir film Divergent, Tris, Tobias, Marcus, Caleb, dan Peter berhasil melarikan diri dan meminta perlindungan pada faksi Amity. Mereka pun setuju untuk menyediakan rumah perlindungan yang aman bagi mereka, dan beberapa warga Abnegation yang selamat.

Namun, karena faksi Amity bersekutu dengan Erudite, dan mereka bahkan tidak ragu untuk menyerahkan Dauntless Pemberontak bahkan Divergent kepada Erudite, demi kelanggengan hubungan persahabatan mereka, maka Tobias dan Tris memutuskan untuk meninggalkan rumah aman Amity dan mencari sekutu lain, yaitu faksi Candor & factionless.

Si penulis pun dengan lihainya mengantarkan kita untuk mengenal Candor & factionless lebih dekat -setelah Amity, tentu saja-, lewat deskripsi tempat, busana, kebiasaan, dan kehidupan masing-masing warga faksi dengan luar biasa detail.

Tobias dan Tris diterima oleh warga Candor setelah mereka dimintai keterangan sehubungan dengan pembunuhan Abnegation, dengan menggunakan serum kejujuran.

Tris, Tobias dan Dauntless Pemberontak yang ditampung oleh Candor, berencana untuk menyerang markas Erudite yang dipenuhi oleh Dauntless Pengkhianat. Janine Matthews, pemimpin faksi Erudite yang sadis, mengancam Candor untuk menyerahkan Divergent, jika tidak dituruti, maka Candor pun akan menjadi target simulasi brutal berikutnya.

Buku kedua ini penuh dengan perang, kesedihan akan kematian orang-orang tersayang dan pengkhiatan yang menyakitkan. Sebuah informasi penting yang selama ini dikunci rapat oleh Abnegation akan terkuak di sini. Victoria benar-benar jenius, hingga membuat gue terpukau dan hanyut sampai halaman akhir.

Setelah Hunger Games, buku ini wajib baca juga.

Tuesday, September 2, 2014

Saat JEMBER Tak Lagi JEMBEL

Absurd? Iya memang. Ini judul postingan terabsurd di dunia!

Sebelumnya, gue mau mendefinisikan apa itu JEMBER?
Jember salah satu kota besar di Jawa Timur. Tempat kelahiran beberapa artis ibukota, seperti Anang, Dewi Persik, Sujiwo Tejo, serta Opick.

Waktu lebaran kemarin, gue dan keluarga menyempatkan diri ke rumah keluarga ibu di Al Furqon Jember. Kita bermalam di Hotel Safari yang udaranya segar. 

Tapi, sebetulnya gue bukan mau cerita tentang Jember. Tapi tentang Sabrina yang kini tak lagi cadel. Yippie..
Sabrina sekarang usianya 2 tahun 5 bulan, dan sudah fasih bilang Rrrrrrrr..... Jadi Jember nggak lagi disebut Jembel sama dia.

Ingat waktu pertama kali Sabrina bicara, kata pertamanya adalah "Nanti jatoh", bukan "Mama" atau "Abah". Biar begitu tetep bikin hati ini seperti naik trampolin, melambung-lambung sampai angkasa. Apalagi sekarang, dia sudah bisa menyebutkan semua huruf abjad dalam kalimat-kalimatnya dengan benar.

"Perrrrmisi, Abah!" saat si Abah menghalangi jalannya masuk kamar, atau
"Sebentarrrrr, Ma. Sabrrrrina lagi rrrrapi-rrrrapi berrrras dulu," saat gue nyuruh dia berhenti acak-acakin beras, dan butirannya berjatuhan di ubin, atau
"Bismirrrahirrrohman nirrrohim...." "ArrrahouAkbarrrr"

I know, i know, dia memang belum bisa membedakan huruf L dan R. Jadi semua kata dengan unsur L, dia sebut R. Sebagai ibu yang bijak, gue musti lebih jeli dengerin tiap suku katanya, dan membenarkan.

Kadang Lari-Lari, jadi Rari-Rari. Lupa, jadi Rupa. Kulkas, jadi Kurkas. Oom Hekel, jadi Oom Heker. Ahaha....

Udah gitu, pengucapan Rrrrrr-nya itu loh yang bikin gemes. Ada penekanan di setiap huruf, seakan-akan ingin menunjukkan skill terbarunya pada semua orang.

Well, Si Mungil itu kini sudah lebih pinter, sudah pantaslah punya adik. Dan, sepertinya sudah bisa gantiin popok adik bayi-nya nanti.
Loh?! hehehe... 




Wednesday, August 20, 2014

Divergent

Review Film Divergent
Film ini serupa dengan Hunger Games. Berdasarkan novel remaja best seller di Amerika. Berkisah tentang kehidupan di masa depan.

Setelah perang besar-besaran terjadi, kehidupan di masa depan ini beralih menjadi tidak biasa. Jika di Hunger Games, masyarakat mereka dipecah menjadi 13 distrik dan Capitol. Di Divergent, rakyatnya harus menentukan komunitas mereka ke dalam lima faksi.

Terdapat lima faksi yang harus dipilih setiap individu saat menginjak usia 16 tahun: Abnegation, Erudite, Amity, Candor, & Dauntless.

Masing-masing faksi memiliki kecenderungan sikap dan hidup yang sudah diatur oleh leluhur mereka. Abnegation dengan sikap bijak dan sederhana, tidak mementingkan diri sendiri. Erudite dengan obsesi akan ilmu & pengetahuan. Amity pencinta damai, yang sangat membenci peperangan. Candor berisi manusia-manusia vokal & jujur. Dan Dauntless hidup sebagai prajurit-prajurit pelindung.

Monday, August 18, 2014

Blended

Masih ingat dengan film Wedding Singer dan Fifty First Date? Film komedi romantis ala Adam Sandler & Drew Barrymore. Bagaimana bila pasangan ini dipertemukan kembali sebagai single parent?

Review Film Blended


Drew Barrymore berperan sebagai Lauren, yang telah bercerai dengan suaminya, dan memiliki dua anak laki, yang salah satunya sedang puber dan jatuh cinta pada pengasuhnya.
Adam Sandler berperan sebagai Jim, ayah dari tiga orang anak perempuan, dan ketiganya diperlakukan layaknya anak laki-laki.

Review Film Blended

Review Film Blended

Awalnya, mereka berdua melakukan blind date, namun sayangnya berakhir dengan menyebalkan. Sejak itu satu sama lain selalu cekcok bila kebetulan berjumpa.

Sampai mendekati libur sekolah, teman Lauren, tiba-tiba saja membatalkan liburan ke Afrika bersama kekasihnya, yang saat itu baru diketahui ternyata memiliki lima anak.

Tiket, akomodasi, dan liburan di tempat eksotis itu diambil alih oleh Lauren, yang akan membawa serta kedua anaknya. Yang tanpa diduga, Jim dan keluarganya juga berlibur di tempat yang sama. Di sini mereka mengaku sebagai satu keluarga. Blended.

Jim & Lauren saling mengenal lebih akrab di Afrika, karakter mereka yang sesungguhnya (sebagai ayah dan ibu yang penyayang) baru keluar saat bersama dengan anak-anak. Hingga pelan-pelan cinta tumbuh di antara mereka.

Film yang lucu, dan menyentuh (terutama di scene yang melibatkan anak-anak), bahwa anak-anak laki membutuhkan seorang ayah, dan anak-anak perempuan tidak bisa jauh dari ibu, pesan yang jelas tersirat.

Dan, satu hal yang kocak banget dari film ini, adanya segerombolan penyanyi latar yang muncul dimana saja dan kemunculannya itu tiba-tiba, bener-bener bikin ngakak.

Review Film Blended

Review Film Blended

Review Film Blended

Review Film Blended

Review Film Blended

Review Film Blended

Friday, August 15, 2014

Testimoni Perawatan Wajah Erha Clinic (Cipinang, Jakarta)

Sudah sering kepikiran mau ke Erha Clinic. Cuma nggak pede gitu. Pertama nggak pede sama dompetnya, kedua ada desas-desus tentang dampak negatif perawatan wajah di erha, misalnya nanti jadi adiktif, kalo nggak kontinu kulit muka jadi tipis, lebih kusam, dan macam-macam yang bikin tambah malas.

Namun, setelah lebaran, dan sebelum masuk kantor lagi, gue memutuskan untuk memberanikan diri ke sana, sekalian ngajak Sabrina jalan-jalan ke tempat baru. Tujuan kita ke Erha Clinic Cipinang, Jakarta karena lebih dekat dengan rumah di Duren Sawit.

Alamat Erha Clinic Cipinang

Waktu itu hari Senin 4 Agustus 2014 (kantor gue mulai masuk Selasa-nya), jadi nggak terlalu rame. Cuma ada beberapa pengunjung yang datang. Ruang tunggunya lumayan nyaman. Gue nyuapinin Sabrina dulu, bawa bekal nasi dan minum dari rumah, kebayangnya takut lama nunggu antrian.

Begitu sampai dan nanya-nanya ke bagian informasi, langsung disuruh isi form member baru. Pelayanan front office-nya ramah sekali. Penuh dengan senyum, dan suaranya lembut.

Nggak begitu lama, nama gue dipanggil, dan bertemu dengan Dr. Novrina Heragandhi, SpKK. Sebelum ke Erha, sempet googling, dan baca-baca testimoni kawan-kawan, banyak dari mereka merekomendasikan beberapa nama dokter Erha, cuma nggak ingat.

Jadwal Praktik Dr. Novrina di Erha Clinic Cipinang
Jadwal Praktik Dr. Novrina di Erha Clinic Cipinang

Dan berhubung, hari itu jadwalnya cuma ada Dr. Novrina, ya sudahlah langsung gue curhat, soal adanya flek hitam kecil di pinggir hidung dekat mata. Yang kalau dilihat sekilas, seperti bekas pijakan kacamata, padahal gue bukan pemakai kacamata.

Dulu, flek ini kecil, ada satu titik saja, tapi sekarang menyebar bertitik-titik di sekitar situ. Pernah juga ke klinik spesialis kulit Dr. Titi di kelapa gading (bukan Erha). Dia menyarankan untuk terapi masker berlian. Sekali maskeran harganya 2 juta. Dan ini butuh 5 sampai 6 kali. "Jadi nanti digosok sama butiran halusnya, agak perih di bagian situ, jadi kayak ditipisin kulitnya," jelas Dr. Titi. Badan gue langsung linu-linu dengar penjelasannya. Akhirnya gue cuma minta krim-krim pemutih kulit.

Nah, menurut keterangan Dr. Novrina, ini bukan flek hitam. Karena warnanya membiru. Dia mengidentifikasi sebagai tanda lahir yang muncul setelah dewasa. Kemudian dia memberikan surat pengantar untuk dilakukan tindakan laser pigmen, yang nggak gue lakukan, karena gue ngeri. Belum paham dampaknya, soalnya ini flek deket mata kanan, takut ada efek ke jaringan mata.

Kulit wajah gue cenderung tidak bermasalah, jerawat dan komedo ada, tapi nggak banyak. Jadi produk yang ditebus di apotek juga sedikit. Cuma ada 4 macam:
  1. Sabun wajah: Erha 1 - Facial Wash for Normal to Dry Skin 60ml
  2. Krim malam: Corrective Cream 25 (CC25) 10g
  3. Krim pagi: Acne Foundation 2 (AF2) 15g
  4. Krim Acne Moisturizer Gel 3 (AMG3) 15g, yang pemakaiannya untuk pagi dan malam.
Produk Erha Clinic
Produk Erha Clinic

Total biaya yang gue keluarkan sebesar: Rp.426.000,-. Dengan rincian sebagai berikut:
  • Biaya member baru: Rp.10.000,-
  • Biaya konsultasi dokter: Rp.160.000,-
  • Harga Erha 1: Rp.62.000,-
  • Harga CC25: Rp.63.000,-
  • Harga AF2: Rp.78.000,-
  • Harga AMG3: Rp.53.000,-

Setelah hampir dua minggu memakai produk Erha, kata temen kantor muka gue terlihat lebih terawat, dan berminyak. Biasanya kering kusam. Apalagi bagian hidung, kasar berkomedo. Mudah-mudahan bisa langgeng nih perawatan wajah di Erha Clinic, maklum sudah menginjak usia kepala 3, harus lebih peduli sama kesehatan kulit wajah.

***

FYI: biaya laser pigmen untuk flek di hidung, dengan area sebesar kuku, berkisar antara Rp.600.000,- sampai Rp.750.000,- (butuh 5 sampai 6 kali terapi).
Dan, untuk "dampak negatif" yang sempat gue singgung di awal posting, sebelum ke erha, mending baca ini dulu: http://www.erha.co.id/faq


Baca juga kelanjutan perawatan wajah Erha Clinic di bulan kedua: klik di sini, dan bulan ketiga: perawatan wajah bulan ketiga.
Baca juga review produk pencerah wajah dari Erha Clinic. 

Tuesday, July 8, 2014

Review Buku: The Book of Tomorrow


Genre:
Fiction Novel
Author:
Cecelia Ahern

Belum pernah ada buku (yang pernah gue baca) seperti buku ini. Biasanya chicklit itu melulu tentang romance. Atau buku thriller itu melulu soal pembunuhan dan psikopat.
Tapi buku The Book of Tomorrow menyajikan cerita fantasi yang sungguh unik. Ada unsur magic, ada sensasi thriller, misteri, lucu, sedih, dan ada sedikit "feels like home" yang dicampur, dikemas sedimikian rupa oleh Cecilia Ahern dengan kalimat-kalimat yang penuh diksi dan luar biasa indah.

Sedikit plot-nya akan gue sharing di sini.
Tokoh utama "Si Aku", bernama Tamara Goodwin. Seorang anak remaja yang terbiasa dengan

Tuesday, July 1, 2014

Vantage Point

Film yang diproduksi tahun 2008 ini, mengangkat tema yang biasa, seorang Secret Agent Amerika yang sangat heroik berusaha menyelamatkan nyawa Presidennya. Namun, harap digarisbawahi, dengan garapan yang sungguh unik dan tidak biasa.

Plot yang sama, akan diceritakan berulang-ulang, sesuai dengan perpektif para tokohnya. Ada sekitar 8 sudut pandang, dengan durasi masing-masing 20 menit. Di awal film siap-siap bingung dan jenuh. Namun, seiring waktu plot-nya akan mengembang, dan barulah kita tahu siapa dalang di balik konspirasi pembunuhan presiden.

Pemeran utamanya, Thomas Barnes, agen rahasia yang baru saja selesai menjalani perawatan akibat luka tembak yang ia derita. Barnes bertugas kembali untuk melindungi presiden USA yang sedang menghadiri pertemuan politik di Salamanca, Spanyol.

Saat presiden diperkenalkan oleh walikota setempat, tiba-tiba saja ia ditembak oleh