Tuesday, March 25, 2014

Pilihan Membawa Anak Ke Kantor

Sebagai ibu pekerja, yang punya anak dan kewajiban ngantor, pasti bingung banget jika pengasuh tiba-tiba resign. Saking mendadaknya mau berhenti, nggak ngasih kesempatan buat kita cari pengasuh baru untuk anak-anak kita.

Masing-masing ibu pasti punya beberapa opsi yang jitu untuk ngakalin hal-hal kayak gini. Misalkan aja titipin ke ibu atau ibu mertua, atau jika ada yang memiliki saudara perempuan (kakak atau adik perempuan, karena agak sulit mengharapkan saudara laki-laki ya), atau opsi lainnya bawa ke day care yang letaknya berdekatan dengan kantor atau rumah.

Tapi bagaimana kalau kondisi dan situasinya seperti saya ini: ibu sudah tiada, ada ibu tiriku, tapi pekerja juga, nggak punya saudara kandung perempuan, dan belum punya ipar (karena adik belum nikah), dan di sekitar kantor atau rumah tidak terdapat day care. Jadi pilihan satu-satunya dalam keadaan gawat darurat seperti ini, adalah membawanya ke kantor.

Hal-hal yang perlu diingat, dan diperhatikan jika membawa anak kerja, di antaranya:

  1. Izin sama bos. Ini penting banget. Sebab jangan sampai bos tau dari orang lain. Jika bos tau dari kita sendiri, artinya kita mempunyai niat baik, dan bisa meyakinkan dirinya bahwa kita tetap mampu bekerja secara profesional.
  2. Bawa semua keperluan, jangan sampai ada yang tertinggal, hingga membuat kita repot sendiri. Misalkan jangan sampai kehabisan pampers, susu harus siap sedia di tas, sabun mandinya, minyak telon, bahkan mainan-mainan kecilnya, dan bawa juga perlengkapan tidur siangnya: selimut, bantal, dll.
  3. Siapkan ruang kosong di kantor untuk aktifitas si kecil, seperti makan, tidur siang, bermain. Ruang kosongnya bisa berupa sedikit space di dekat meja kita, atau misalkan ruang meeting yang cuma dipakai seminggu sekali, atau ruangan salah satu teman kerja yang sedang cuti melahirkan. Perhatikan juga kebersihannya.
  4. Tetap bekerja secara profesional. Jika perlu buatlah skema-skema waktu antara pekerjaan dan mengurus anak. Misalkan antara jam 8 sampai 10 pagi menyelesaikan pekerjaan, lalu menidursiangkan anak sekitar 30 menit hingga dia tertidur sendiri, lanjut bekerja lagi, jam 12-13 siang, makan siang dan bermain, setelah itu bekerja lagi sampai jam 3 sore, kemudian mandiin anak dan bersiap pulang.
  5. Sarapan, makan siang, dan yang penting cemilan anak harus sudah disiapkan.
  6. Kita juga bisa minta bantuan rekan-rekan kerja lainnya untuk mengawasi anak kita. Itulah gunanya teman hehehe...
Sekian tips dari saya untuk membawa anak ke kantor, selagi dibawa kerja, tetap usaha cari pengasuh baru ya.

Friday, March 21, 2014

Tips Kepenulisan: Ellipse-Ellipse Membantu Mengembangkan Ide Tulisan

By: Aridha Prassetya

Pernah mendengar kata ellipse? Tepat sekali! Itu diajarkan waktu kita duduk di Sekolah Dasar. Ketika itu, guru kita mengajarkan tentang bentuk-bentuk gambar seperti, segi tiga, segi empat, kubus, empat persegi panjang, jajaran genjang, lingkaran, dan ellipse. Ellipse adalah bulatan panjang. Orang sering menyebutnya sebagai bentuk “lonjong”.

Lalu apa hubungannya dengan menulis?

Seperti judul tulisan ini, ellipse dapat membantu kita mengembangkan ide. Tidak percaya? Lakukanlah langkah-langkah ini:
  1. Ambillah selembar kertas kosong, gambarlah sebuah persegi panjang/kotak, persis pada bagian tengah kertas. Tuliskan kalimat ini: “AKU INGIN MENJADI PENULIS” dalam kotak yang sudah anda buat.
  2. Gambarkan ellipse–ellipse di sekitar gambar kotak Anda. Gambarkan ellipse dalam jumlah yang banyak, sebanyak yang Anda suka.
  3. Ellipse-ellipse yang sudah Anda buat tidak boleh dibiarkan kosong. Tuliskan pada masing-masing ellipse Anda tersebut, sebuah kata atau kalimat pendek.
  4. Kata atau frasa tersebut sebaiknya berhubungan dengan cita-cita Anda, yakni AKU INGIN MENJADI PENULIS. Misalnya:
    a. malas,
    b. sibuk,
    c. tidak punya waktu,
    d. buku,
    e. membaca,
    f. berfikir,
    g. meluangkan waktu,
    h. memulai menulis,
    i. mengembangkan ide,
    j. teknik menulis,
    k. guru,
    l. kapan waktu yang tepat untuk menulis,
    m. menjadi penulis terkenal,
    n. kebuntuan pikiran,
    o. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD),
    p. editing,
    q. menjual tulisan,
    r. memilih judul,
    s. penerbitan, dan
    t. membangun motivasi menulis.
Akan lebih menarik jika Anda mewarnai ellipse-ellipse tersebut. Anda akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Berapa jumlah ellipse yang sudah terisi sekarang? Wow! Dua puluh! Bayangkan apabila satu ellipse dapat kita jadikan sebuah judul bab, maka ini setara dengan rencana dua judul buku. Dan Anda masih dapat mengembangkan lagi. Oh, ya??? Bagaimana caranya?

Tarik saja salah satu ellipse, seperti MENJADI PENULIS TERKENAL (point m). Lakukan hal yang sama! Ambil kertas kosong. Gambarlah sebuah kotak di tengahnya. Tuliskan kalimat MENJADI PENULIS TERKENAL di dalamnya. Lalu gambarkan ellipse-ellipse di sekitar kotak Anda. Sebanyak yang anda suka, tentu saja. Makin banyak, makin bagus.

Isilah ellipse-ellipse tersebut dengan semua “khayalan” anda tentang MENJADI PENULIS TERKENAL. Jangan takut berkhayal atau berandai-andai. Khayalan Anda bahkan boleh positif maupun negatif. Salah satu contoh khayalan positif misalnya “karyaku akan difilmkan”. Sedangkan contoh khayalan negatif, katakanlah seperti “sombong”.

Anda tidak perlu takut untuk menuliskan hal-hal negatif dalam ellipse-ellipse Anda. Mengapa? Sebab yang negatif itu bisa disulap menjadi sesuatu yang positif. Sebuah khayalan negatif tentang kesombongan dapat menjadi sebuah judul bab yang bagus, yakni “mengatasi potensi kesombongan”.

Menggambar ellipse-ellipse. Sepertinya Anda merasa pernah mendengar hal ini? Ya! Inilah yang orang sebut-sebut sebagai pemetaan pikiran atau mind mapping itu. Nah, bagaimana sekarang?

Ambillah selembar kertas. Kemudian mulailah menggambar dan mengisi ellipse-ellipse Anda. Tuliskan di sana semua yang menggelisahkan Anda tentang sesuatu hal. Anda akan dikejutkan oleh kemampuan diri Ada sendiri. Anda dalam keadaan “MAKIN KAYA IDE”.

***

Tips Kepenulisan: Sekali-kali keluarlah dari Zona Nyaman

Keluhan bukan barang baru bagi penulis. Bahkan penulis yang sudah menghasilkan buku pun kerapkali mengeluh ketika menjalani profesi menulis. Apalagi penulis pemula atau mereka yang mencoba-coba memulai karirnya dalam menulis. Selalu saja da kalimat yang terlontar dari lubuk hati yang paling dalam:

"Wah, ide buntu. Mau nulis apa, nih?"
"Habis paragraf ini apa ya?"
"Masih bertahan di halaman 10, kapan nyampe halaman 100-nya?"
"Duh, jangan pekan ini, deh. Sebulan lagi tulisannya selesai."
"Nggak ada komputer. Kalau ada laptop enak nih nulis."
"NYari data kudu ke warnet dulu. Internet nggak ada di rumah."
Bla... bla... bla...

Inilah sebagian zona nyaman yang sering menghinggapi. Ibarat kata pepatah 'rumput tetanga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri'. Seringkali ketika menulis kita melihat di luar diri dan langsung menjatuhkan penilaian bahwa itulah yang nyaman dalam menulis.

Misalnya, di rumah tidak ada notebook yang ada hanya komputer personal atau PC. Itu pun harus dipakai bergantian dengan orang-orang di dalam rumah. Sesaat muncullah bisikan dalam hati, "Kalau punya laptop enak nih kerja. Kalau PC punya sendiri di dalam kamr bakalan selesai tulisannya. Wah, kalau punya PC dan laptop enak kerja di mana saja."

Menciptakan zona nyaman itu hulunya adalah menciptakan enaknya menurut diri kita sendiri ketika menulis. Melihat bahwa, misalnya, penulis x yang sudah  terkenal diketahui nyaman menulis di mana saja karena ada laptop selalu dibawa di tas punggungnya. Dan seandainya kita memiliki laptop akan mengira akan sama produktifitasnya dengan penulis x itu.

Padahal, zona (yang kita kira) nyaman itu sebenarnya tidak seratus persen bisa bikin kita nyaman dalam menulis. Laptop yang kita punya pun bisa menjadi pangkal ketidak nyamanan. "Wah, laptop layarnya 14 inci, coba kalau 10 inci. Kecil enak dibawa kemana-mana."

So, sekali-kali ketika menulis keluarlah dari zona nyaman itu. Jika tidak punya buku referensi, jalan ke perpustakaan atau 'numpang' baca di toko buku. Menulislah dengan apa yang ada dan apa yang kita punya.

Percayalah, kepayahan dalam menyelesaikan 100 halaman dikemudian hari nilai kepayahan itu akan tergantikan dengan persaaan laur biasa; mengetahui buku diterbitkan, takjub memandang nama kita ada di kaver buku, diberi selamat oleh pembaca,  dan syukur-syukur buku jadi best seller.

Ibarat kata-kata bijak, setiap kesulitan akhirnya akan ada kemudahan...


by: Kang Arul

Tips Kepenulisan: Motivasi dari Asma Nadia


Menulis itu berjuang!



Lalu, adakah kata kemalasan dalam kamus berjuang itu?



Pantaskah menunggu mood dalam satu perjuangan?


Bolehkah mengeluh dan menyerah kalah karena ketiadaan fasilitas?


No excuse!



Alasan-alasan untuk tidak menulis hanya diabadikan oleh mereka yang tidak ingin mimpinya menjadi kenyataan.

Atau sederhananya, memang tidak benar-benar ingin menjadi penulis.

Tips Kepenulisan: Tertular Semangat Nicholas Sparks

Seperti kebanyakan penulis sukses pada umumnya, sebelum dia mengoleksi berbagai penghargaan sehubungan dengan sastranya, dia mulai mengoleksi surat penolakan dari penerbit sejak masih belia.

Tapi kesuksesan Nicholas Sparks ternyata nggak hanya itu, sejak novel pertamanya selesai, yang akhirnya tidak pernah dikirimkan ke penerbit manapun, malah dimakamkan hidup-hidup dalam kuburan sastranya, sejak saat itu dengan penuh tekad, Nicholas berhasil menerbitkan novel-novel bestseller, dan dikenal dunia.


Delapan novel di antaranya telah difilmkan oleh Hollywood, dan diperankan oleh aktris dan aktor kenamaan perfilman Hollywood, sebut saja
  • The Notebook
  • A Walk to Remember
  • Night in Rodanthe
  • Message in The Bottle
  • Dear John
  • The Last Song
  • The Lucky One
  • Dan yang terbaru Safe Haven.

Gue pernah baca profilnya di salah satu tabloid infotainment. Bagaimana pengalaman menulisnya dideskripsikan oleh si tabloid dengan begitu asyik dan mengharukan, serta menambah motivasi menulis.

Pengalaman menulis Nicholas, seperti mengajarkan gue untuk bersabar. Menulis, kirim ke penerbit, ditolak penerbit, dan menulis lagi. No matter what. No matter how. Sabar dan terus menulis. Selalu memberikan kesempatan kedua dan ketiga dan keempat dan seterusnya pada diri ini untuk berkreasi, untuk membuktikan bahwa diri kita mampu menghasilkan prestasi terbaik, dan mendatangkan apresiasi terbaik pula.

Jadi, sebetulnya tujuan utama menulis adalah untuk mencapai achievement itu. Dan, selama prosesnya, yang selain akan lebih menghasilkan banyak pemikiran kreatif, ide-ide, juga menelan tolakan dari penerbit.

Gue pernah baca juga di salah satu buku, kira-kira kalimatnya seperti ini: "Orang yang paling sering menerima penolakan, adalah penulis"

Boleh gue tambahkan di sini: "Dan, penulis adalah orang yang paling tak tahu malu, sudah ditolak, masih juga mengirim naskah"

Kira-kira begitu, kawan.

*** 

Tips Kepenulisan: Buntu Menulis

Dulu, waktu masih sibuk tesis, trus berlanjut ke diklat bea cukai, ide-ide cerpen datang beruntun. Nggak tau tempat, nggak tau waktu, nggak tau diri.
Padahal dikejar-kejar dosen, disuruh nyerahin bab 2, bab 3, bab 4.
Belum lagi dihantui oleh buku-buku diklat setebal kasur, yang menuntut untuk dibaca sampe lembar paling belakang!
Saking nggak bisa nahan diri untuk nulis, disempetin bikin satu dua cerpen. Betul-betul curi-curi kesempatan. Colong-colong waktu.

Nah, sekarang? Giliran lagi kosong, dan sudah nggak repot sama urusan sekolah, tapi ide-ide cerpen itu?? Mereka lari-larian. Susah banget dikejar. Apalagi ditangkap, dimasukin kandang, trus dijadiin ternak "ide"???

***

Ini disebut juga dengan writer's blockBuntu sebuntu-buntunya.

Pernah juga baca beberapa tips jika mengalami itu.Salah satunya: tulis apa aja yang dipikirkan si otak kanan. Apa saja. Terserah!Kalo sekarang yang ada di otak kanan adalah tentang otak yang buntu, jadi gue menulis tentang hal ini.


Berikut beberapa tips mengatasi kebuntuan yang bisa dicoba:


  1. Membaca buku juga disebut sebagai salah satu cara mengatasi kebuntuan. Membaca buku sudah terbukti dapat menambah wawasan, imajinasi, serta memperkaya gaya penulisan. Misal, baru saja selesai membaca buku TLOTR, maka gaya penulisan dan bertutur kita secara tidak langsung mengikut pula dengan gayanya Mr. Tolkien.
  2. Bukan cuma membaca buku, tapi perlu juga memperhatikan lingkungan sekitar. Setelah mengingat cerpen yang gue tulis itu, beberapa di antaranya adalah hasil dari mengamati dan mencermati. Cinta Sridevi, Aris & Kucil, Ssst... Ini Rahasia, dan Semalam Bersamanya adalah ide-ide yang muncul di angkot.
  3. Tips lainnya, seperti: mengganti alat tulis, jika rutinitas menulis menggunakan PC atau Notebook, maka coba diganti dengan tulis tangan pake pena dan kertas, atau bahkan mesin tik. 
  4. Dan jangan lupa mengubah tempat menulis, kalau biasanya duduk berhadapan sama PC di meja, atau memangku Notebook di tempat tidur atau sofa. Nah, kali ini tempat menulisnya dipindah. Misalnya, menulis di halte, atau di pasar tradisional. Kalau kurang rame, coba di terminal. Pernah juga kepikiran menulis di objek-objek wisata. Biasanya para fotografer yang gemar menyalurkan hobi di situ. Sekarang giliran penulis. Coba bayangkan, menulis di depan kandang monyet di Ragunan, atau di bawah perut ikan pari di Seaworld, atau di tengah-tengah kebun teh, atau bahkan menulis di puncak tertinggi Gunung Rinjani. Kalau mau sekalian yang ekstrem: menulis saat bungie jumping, atau terombang-ambing di sungai deras arung jeram. Hebat!!!!
  5. Terakhir, dan ini yang paling gampang kayaknya: Ngobrol. Sama siapa saja, dimana saja, melalui apa saja. Apalagi jika bicara dan diskusi dengan orang-orang baru. Dijamin, minimal ada satu ide yang mampir, dan bisa kita explore.
Nah, jadi jangan sedih kalo sedang buntu. Buktinya "kebuntuan" ini bisa menjadi ide, dan pada akhirnya selesai ditulis.

Review Buku: The Blind Owl

blind owl
Genre:Literature & Fiction
Author:Sadeq Hedayat

Sebetulnya cerita The Blind Owl biasa saja, tentang seorang suami yang stres berat karena tingkah laku istrinya, seorang pelacur. Sampai dia tega membunuh istrinya itu, lalu tubuhnya dipotong-potong, dimasukkan ke dalam tas koper, dan dimakamkan di bawah pohon.
Betul kan ceritanya biasa saja. Soalnya di Indonesia sendiri ada yang lebih parah, tau sendirilah siapa orangnya.

Tapi, gaya penulisannya itu yang buat novel ini dapat empat bintang dariku. Gaya penulisannya: Sastra Sekali.
Bahasanya rumit, namun indah. Dingin, tapi cantik. Si penulis betul-betul menjiwai tokoh "aku" yang kondisi mentalnya acak-acakan, dan jiwanya tidak berbentuk. Seluruh pikiran si tokoh "aku", rancu, dan ngelantur kemana-mana. Membaca buku ini, kurang lebih kita mengerti tentang apa yang dipikirkan orang tidak waras, secara dalam dan seksama.

Si penulis, beberapa tahun setelah menerbitkan novel ini, membunuh dirinya sendiri. Sebab ia merasa tidak mampu lagi menerbitkan mahakarya-mahakarya lainnya yang se-level dengan The Blind Owl.

Review Buku: Malaikat Jatuh

Buku Malaikat Jatuh
Genre:Literature & Fiction
Author:Clara Ng

Clara Ng adalah salah satu penulis lokal favoritku. Jika ada yang pernah membaca karya bestsellernya, Indiana Chronicle, yang lucu, centil, cerdas, dan modern, maka akan menemukan perbedaan besar dengan karya-karya lainnya dalam buku ini.

Malaikat Jatuh adalah sebuah buku kumpulan cerpen Clara Ng. Kisah fantasi negeri-negeri dongeng, negeri-negeri antah berantah, yang unik, gelap, dan suram. Namun ada benang merah yang dapat ditarik dari keseluruhan cerpen, yaitu tentang cinta ibu dan anak.
Di dalam buku ini, tidak akan ditemukan cerita yang biasa-biasa saja. Sebab semua cerpennya penuh dengan imajinasi liar, yang terendap dalam dan lama, menunggu untuk dibebaskan, dan mengguncang logika.
Inilah keistimewaan Malaikat Jatuh, sehingga layak mendapatkan empat bintang.

NB: Salah satu cerpen favoritku dalam buku ini, berjudul Makam. Tentang seorang anak manusia yang sering berziarah ke makam ibunya. Membawakan bunga-bunga untuk sang bunda, sebagai ucapan rasa terima kasih, dan cinta yang tulus. Hal unik yang terkandung dalam cerpen ini, tertulis di bagian akhir cerpen. Pokoknya takjub ketika mengetahui siapa sesungguhnya sang bunda yang dimaksud?
Cerpen lainnya yang juga favorit, berjudul Istri Paling Sempurna, dan Malaikat Jatuh.

Review Buku: Plain Truth - Kebenaran Sederhana

Plain Truth
Genre:Literature & Fiction
Author:Jodi Picoult

Buku ini menceritakan secara rinci tentang kehidupan masyarakat Amish, yang tinggal di kota kecil Paradise, Pennsylvania, Amerika Serikat. Dari mulai kesibukan sehari-hari, kesederhanaan mereka, cara beribadah, pakaian, pola makan, dan pengadilan ala Amish, yang jauh berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Menambah sedikit wawasan tentang kehidupan mereka.

Lalu seorang pengacara pembela bernama Ellie Hathaway mendapat tugas untuk membela seorang kliennya, Katie Fisher, gadis Amish yang dituduh melakukan pembunuhan tingkat satu terhadap bayinya sendiri.

Cerita berkembang saat Ellie diharuskan hidup di rumah pertanian Amish, dan mencoba untuk beradaptasi dengan mereka. Ellie mendapati begitu banyaknya dilema dalam menghadapi kliennya itu. Mulai dari pengakuan Katie bahwa dia tidak membunuh bayinya, sampai dengan aturan Ordnung, semacam aturan gereja setempat, tentang pengakuan kesalahan, pengisolasian, serta penerimaan kembali sebagai Amish. Plus penemuan bukti-bukti yang sangat menyudutkan kliennya.

Semua usaha dikerahkan oleh Ellie, dengan segala intrik di ruang sidang; antara pembela dan jaksa penuntut umum, hakim, para juri, dan para saksi. Asumsi dan spekulasi bagaikan benang kusut, bertebaran di banyak babnya. Menegangkan, namun mengasyikkan.

Fokus cerita bukan hanya pada dunia hukum dan pengadilan, banyak pesan moral yang ingin disampaikan Jodi Picoult dalam bukunya, yakni tentang hangatnya cinta dan kasih sayang antarsesama anggota keluarga, serta kebersamaan dalam satu komunitas lebih penting daripada pemikiran egosentris.

Alur ceritanya rapi, dialog-dialognya cerdas, dan di akhir cerita (betul-betul di baris akhir dari novel ini) kita mendapati satu kebenaran yang sederhana (sesuai dengan judulnya) yang mengungkapkan misteri pembunuhan bayi Katie Fisher.

Review Buku: Chicken Soup For The Writer's Soul: Harga Sebuah Impian

Harga Sebuah Impian
Genre:Nonfiction
Author:J. Canfield, M. V. Hansen, B. Gardner

Kumpulan cerita pendek, yang merupakan kisah nyata, tentang dunia kepenulisan.
Ditulis oleh penulis-penulis besar, yang sudah menerbitkan banyak mahakarya. Isinya bukan saja tentang suka-duka dalam meraih impian kebanyakan penulis (yaitu karya-karya yang diterbitkan), tapi juga sarat dengan prinsip-prinsip dasar kepenulisan.

Setiap selesai baca satu kisah pendeknya, cengir lebar menghiasi wajah. Lalu dalam hati berujar, "Gak salah gue milih hobi ini."
Sebetulnya bukan sekedar hobi aja, kalau mood lagi enak, baru menulis. Kegiatan ini lebih tepat diartikan sebagai alat terapi jiwa paling canggih. Dengan menulis, kita berdialog dengan diri sendiri, supaya lebih mengenal dan memahami keinginan serta kebutuhan diri, lalu menghormati dan menerima diri ini apa adanya. Dan usahakan menulis dengan jujur.

Selain itu, setelah baca buku ini, gue diajarkan untuk bersikap sabar dalam mengalami penolakan dari pihak lain, salah satunya media penerbitan.
Dan mengenal perjuangan ekstra keras para penulis pemula dan kacangan, sampai mereka menjadi penulis-penulis besar yang digandrungi dunia.

Penulis pemula wajib baca!
Bahkan kalau perlu, wajib punya!